Jakarta,neodetik.news || People power sudah digaungkan menjelang Jokowi mengakhiri masa jabatan keduanya. Kebijakan semaunya terasa menyengsarakan rakyat. Mulai IKN, Rempang, Omnibus Law, kenaikan UKT, PPN, wajib Tapera, hingga menjerat ormas keagamaan dengan tambang. Jokowi Ingin memperpanjang jabatan dengan cawe-cawe curang dalam menyukseskan Prabowo-Gibran.
Jangan ditanya soal korupsi dengan besaran yang semakin spektakuler. Terakhir terkuak Pertamina jebol 968,5 trilyun, PT Timah 300 trilyun dan trilyunan lain dari berbagai program dan perusahaan. Korupsi telah bernilai quadriliun, trilyun sudah lewat, apalagi milyar yang dianggap recehan. Memang sadis rezim Jokowi ini. Hampir dipastikan korupsi itu bergandengan tangan dengan kolusi. Dimana ada penguasa disana ada pengusaha.
Pelantikan Gibran menjadi Wapres adalah monumen sekaligus bukti nepotisme keluarga Jokowi. Ada Anwar Usman, Bobby Nasution, Kaesang, Iriana, Bagaskara, dan lainnya. Pejabat lain terinspirasi nepotis.Bawa anak atau istri untuk berkuasa. KKN adalah wajah dari penghuni istana yang kini ikut mengelola negara dari rumah destinasi wisata Jalan Kutai Utara Surakarta.
Prabowo yang memelihara samsul dengan menerima titipan menteri, kroni, serta teddy menjadi penganut dari pola KKN berkelanjutan. Danantara adalah penghancuran BUMN sebagaima BRIN yang memporakporandakan badan-badan riset. Sentralisasi memperkuat oligarki dan melemahkan demokrasi. Dwifungsi TNI dan multifungsi Polisi peka terhadap gerakan perlawanan mahasiswa dan rakyat semesta.
Saham anjlok, rupiah 6.700 hampir 7000, harga-harga naik, utang 8.909 trilyun, daya beli melemah, phk melonjak, pabrik tutup, kesenjangan semakin tajam, serta investasi yang masih omon-omon. Iklim usaha berbau mark-up dan suap. Kondisi ekonomi bergerak menuju krisis akibat guncangan.
Sebagaimana 1998, George Soros mulai “turun tangan” untuk memperkeruh. Sementara Trump membuat kebijakan kejutan dengan menerapkan tarif resiprokal. Indonesia terkena kenaikan tarif impor Amerika cukup tinggi 32 %. Daya tahan ekonomi nasional yang rentan dapat mendekatkan Indonesia pada krisis finansial. Nilai tukar rupiah terus melemah.
Rezim Prabowo panik hingga harus mengirim delegasi untuk menegosiasi kebijakan tarif Trump. Menurut pakar ekonomi Anthony Budiawan Trumph menargetkan untuk menghajar negara “Dirty 15” dan Indonesia masuk dalam daftar itu. Entah faktor “two countries twin park” dengan RRC, faktor BRI atau BRICS sehingga Indonesia menjadi target AS. Luhut “duta China” tentu lebih tahu akan hal itu.
Retreat Prabowo gagal membangun mental. Tidak ada prestasi kementrian, yang terjadi adalah kemunduran. Jalan mundur Sri Mulyani adalah bentuk kebodohan atas ketidakbecusan dari Menteri Keuangan terburuk dan terpuruk dunia.
Reformasi jilid II merupakakan program strategis nasional. Mahasiswa telah melakukan pemanasan saat teriak “Adili Jokowi” dan tolak “Dwifungsi TNI”. Terlalu sederhana isu menunggangi mahasiswa. Mereka punya idealisme dan keberanian. Dan esok Reformasi Jilid II segera memanggil mahasiswa dan elemen perubahan lainnya.
Prabowo-Gibran di ujung tanduk. Tanduk arogansi, murid Jokowi, memperalat TNI-Polisi, mitos strategi, budak oligarki, kaya basa-basi, serta hilirisasi korupsi.
Perubahan tidak bisa gradual atau parsial melainkan fundamental.
Reformasi 27 tahun lalu bagus juga untuk diulangi.
Sumber :M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 5 April 2025