Pekalongan, neodetik.news || Berbagai tradisi yang secara turun temurun dilestarikan dengan cara-cara tertentu memberi pelajaran bagi masyarakat yang melestarikannya.
Tanpa filosofi yang menyertainya, sebuah tradisi hanyalah praktik hidup hura-hura.
Dalam beberapa tahun belakangan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menyelenggarakan ritual gunungan menggono yang bertajuk Kirab Gunungan Megono yang dilaksanakan setiap bulan Syawal, tepatnya pada tanggal 7 Syawal di wisata Linggoasri.
Ritual ini termasuk baru, Sebab secara tradisi masyarakat tidak mengenal gunungan atau tumpeng raksasa yang dibuat dari nasi megono dan biasanya tumpeng dibuat dari nasi kuning yang memiliki makna filosofi tertentu.
Menurut Edy Van Keling kepada neodetik.news Rabu ( 2/4/2025 ) mengatakan bahwa berdasarkan hasil kajian dan diskusi Seniman, sejarawan dan budayawan Pekalongan bahwa Megono gunungan yang dilaksanakan setiap bulan Syawal tersebut tidak ada akar sejarahnya dan itu hanya produk Ismu yang pada waktu itu sebagai marketing wisata Linggoasri untuk mendongkrak pendapatan daerah, berbeda dengan tradisi lupis raksasa yang ada di Krapyak kota pekalongan yang memang full sejarah dan tradisi lokal sehingga layak dilestarikan.
Lebih lanjut Edy Van Keling mengatakan bahwa Gunungan Megono yang tidak ada akar sejarahnya ini kelak akan meninggalkan sejarah pada anak cucu kita sesuatu tradisi yang tidak ada filosofinya maupun akar sejarahnya sehingga Pemerintah Kabupaten Pekalongan perlu sekali menjelaskan kepada masyarakat bahwa Ritual Kirab Gunungan Menggono ini memang suatu tradisi yang baru untuk meramaikan tempat wisata Linggoasri.
" Ini kegiatan rutinitas tahunan yang terkesan hura-hura apalagi saat ini Pemerintah Pusat telah melaksanakan efisiensi anggaran ", jelas Edy Van Keling pada neodetik.news
( Tim )