Jakarta,neodetik.news _'Tak hanya Indonesia, di sebagian besar negara yang berpenduduk muslim pun demikian. Negara dikuasai rezim berhati rakus, super licik dan bersekutu di balik layar dengan hegemoni global.
Perompokan sumber kekayaan alam, penguasaan sentra ekonomi strategis dan peran oligarki mengatur pusat kekuasaan negara, menjadi target zionis. Dari situ, rakyat diperbudak secara sistematis.
Apa yang terjadi di Palestina adalah kejahatan yang sangat sempurna. Semua hak hidup umat Islam sirna, dilucuti dan dikontrol secara super ketat. Eksistensi yang tak bisa ditaklukan adalah keimanan.
Islam menjadi identitas dan sekaligus spirit kehidupan bangsa Palestina. Tak ketinggalan, minoritas Kristen pun inheren dalam realitas tersebut. Ikut tergilas oleh penindasan dan penjajahan Israel.
Apa yang terjadi di Indonesia esensinya sama, hanya perbedaan pada level ketidakadilan. Di mana praktek kekuasaan sekularisme berhasil menciptakan politik kotak-kotak untuk menyulut saling prasangka.
Fakta kekuasaan negara dalam kurun waktu lebih dari 70 tahun dibajak oleh agen sekuler. Nama lainnya adalah boneka oligarki dan misionaris matrealisme. Semua umat beragama tersingkir dan diadu-domba.
Kemiskinan merantai kehidupan mayoritas umat Islam dan menyeret ketidakpastian bagi ruang minoritas. Sama-sama menjadi korban dari ganasnya praktek kekuasaan yang korup, licik dan zalim.
Kini umat tersadarkan, ketika menyaksikan praktek pembantain atas bangsa Palestina, semua otoritas keagamaan tak berdaya. Sadar bahwa negara telah dikuasai oleh kendali agen sekularis.
Rakyat yang hendak berontak oleh kesadaran keagamaan dan rasa kemanusiaan, terposisi sebagai penonton. Hanya terlibat bersuara dalam aneka demo dan protes keras di media sosial.
Penyelenggara negara yang hidup dari pajak rakyat, justru menidurkan ribuan serdadu di barak-barak militer. Sembari Jokowi asyik menipu rakyat dengan mengutus Menlu berakrobat di PBB.
Negara sebagai instrumen kehendak rakyat, lumpuh total. Akibatnya, aneka kejahatan Zionis membantai warga Palestina tak dapat dicegah. Hakikinya, kita sama-sama terjajah oleh praktek kekuasaan negara berwatak sekularisme!
Tim Redaksi